Persiapan Melahirkan
Akhirnya putra kedua saya lahir. Saya bilang “akhirnya”, karena saya sudah tidak sabar menunggu si kecil lahir.
Dia lahir sehari sebelum deadline 40 minggu, setelah diwanti-wanti dokter, kalau sampai tanggal deadline belum ada tanda-tanda, saya bakal diinduksi.
Kenyataannya, memang saya diinduksi, karena ternyata sehari sebelum deadline, air ketuban sudah pecah duluan. Jadilah saya “menikmati” infus induksi dengan kontraksi yang kata orang lebih sakit dari persalinan normal tanpa induksi.
Putra pertama saya juga lahir dengan proses yang sama, setelah menunggu sehari semalam ternyata pembukaan 2 nggak nambah-nambah. Jadi jujur, saya nggak tahu apakah kontraksi akibat induksi memang lebih sakit. Yang saya tahu, sakitnya melahirkan itu ya sakit banget…
Karena kelahiran yang pertama butuh waktu cukup lama, lebih dari dua hari sebelum akhirnya mbrojol, sebenarnya kali ini saya sudah bikin persiapan kalau-kalau kontraksi mulai datang.
Dulu, setelah merasakan kontraksi 5 menit sekali, saya langsung diantar suami ke rumah sakit. Ternyata masih bukaan 2, dan perjalanan masih sangat panjang…
Padahal, sudah sempat panik dan stress karena jalanan yang macet. Belum sempat mandi dan nggak berminat makan, karena merasakan kontraksi.
Jadi, untuk kali ini saya bikin persiapan batin kalau-kalau kontraksi datang teratur. Saya share di sini, kalau-kalau ada calon mama yang sedang menunggu hari H.
1. Jangan panik. Biasanya kalau kehamilan pertama, begitu ada kontraksi yang teratur, langsung pingin cepat-cepat ke RS. Padahal, kalau bukaannya masih kecil, ke rumah sakit pun akan disuruh pulang dulu. Biasanya masih beberapa jam lagi.
Lagipula, daripada menghabiskan waktu di rumah sakit, lebih nyaman berlama-lama di rumah. Waktu menunggu anak saya yang pertama lahir, di rumah sakit saya malah tambah stress. Penyebabnya, karena ada ibu yang juga akan melahirkan, mulai teriak-teriak karena nggak tahan dengan sakit kontraksi.
Sebenarnya, waktu masih awal pembukaan, sakit kontraksi masih bisa ditahan. Masih bisa ngobrol. Tapi kalau dengar ada yang teriak-teriak kesakitan, ya jadi ikut terasa sakit deh…
2. Selama di rumah, take your time untuk ngecek-ngecek lagi apa yang mesti dibawa ke rumah sakit. Baju ganti, termasuk punya suami. Keperluan bayi, bacaan. Kalau mau ngurus akte kelahiran di rumah sakit, cek juga syarat-syaratnya.
3. Mandi air hangat. Selain biar relaks, kita nggak akan pernah tahu apa proses kelahiran masih lama atau sebentar. Lebih baik bersih-bersih badan dulu. Tapi kalau sudah pecah ketuban, jangan mandi berendam ya…
4. Keramas. Ini juga sama dengan mandi. Biar relaks, dan supaya waktu lahiran kita bisa fokus ke aktivitas mengejan, bukannya mikirin rambut yang lepek karena keringat… Sebenernya sih kalau bisa, creambath dulu kali ya… kan enak tuh dipijetin. Petinju aja kalau mau tanding, dipijetin dulu kan ? he he…
5. Buang air besar. Kedengarannya konyol, tapi penting loh. Daripada dikeluarkan secara paksa alias disedot sama susternya, lebih baik dipersiapkan di rumah. Lebih nyaman kan ?
6. Gunting kuku. Biasanya kalau sudah pembukaan 7 ke atas, sudah mulai rasa sakit yang membuat kita nggak bisa memperkirakan, apa yang akan kita perbuat sama suami atau orang yang menunggui kita.
Bagus kalau cuma meremas tangan, atau marah-marah. Kalau sampai ke cakar mencakar, atau tendang menendang, kasian kan suaminya… makanya kuku kita jangan panjang, untuk jaga-jaga…
7. Makan. Ini penting loh. Yang namanya proses melahirkan itu butuh energi besar. Padahal, semakin intense kontraksi yang kita rasakan, semakin susah untuk makan. Jangan sampai kita kehabisan energi di tengah-tengah mengejan. Kasian kan baby-nya…
Usahakan makan makanan yang bisa jadi sumber energi, bukan cuma ngemil. Tapi jangan kekenyangan ya, ntar malah susah…
8. Minta maaf sama ibu dan suami, atau orang yang mendampingi. Like I said, kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di ruang persalinan. Mungkin prosesnya akan susah, mungkin gampang. Nah, inget-inget bahwa dulu ibu kita juga melalui proses yang sama, jadi nggak ada salahnya kita minta maaf dulu sama ibunda.
Kalau dengan suami, karena kita nggak tahu suami akan kena dampak apa. Mungkin cuma diremas tangannya, tapi mungkin juga dicakar atau ditendang… ha ha…
9. Tidur, or at least relax. Kalau kondisi badan nggak fit, bukannya nggak mungkin di tengah-tengah bukaan, kita merasa nggak tahan dan minta dokter untuk operasi…
Jadi, tenangkan pikiran dan siapkan kondisi badan.
10. Berdoa…

Akhirnya putra kedua saya lahir. Saya bilang “akhirnya”, karena saya sudah tidak sabar menunggu si kecil lahir. Dia lahir sehari sebelum deadline 40 minggu, setelah diwanti-wanti dokter, kalau sampai tanggal deadline belum ada tanda-tanda, saya bakal diinduksi.
Kenyataannya, memang saya diinduksi, karena ternyata sehari sebelum deadline, air ketuban sudah pecah duluan. Jadilah saya “menikmati” infus induksi dengan kontraksi yang kata orang lebih sakit dari persalinan normal tanpa induksi.
Putra pertama saya juga lahir dengan proses yang sama, setelah menunggu sehari semalam ternyata pembukaan 2 nggak nambah-nambah. Jadi jujur, saya nggak tahu apakah kontraksi akibat induksi memang lebih sakit. Yang saya tahu, sakitnya melahirkan itu ya sakit banget…
Karena kelahiran yang pertama butuh waktu cukup lama, lebih dari dua hari sebelum akhirnya mbrojol, sebenarnya kali ini saya sudah bikin persiapan kalau-kalau kontraksi mulai datang.
Dulu, setelah merasakan kontraksi 5 menit sekali, saya langsung diantar suami ke rumah sakit. Ternyata masih bukaan 2, dan perjalanan masih sangat panjang… Padahal, sudah sempat panik dan stress karena jalanan yang macet. Belum sempat mandi dan nggak berminat makan, karena merasakan kontraksi.
Jadi, untuk kali ini saya bikin persiapan batin kalau-kalau kontraksi datang teratur. Saya share di sini, kalau-kalau ada calon mama yang sedang menunggu hari H.
1. Jangan panik. Biasanya kalau kehamilan pertama, begitu ada kontraksi yang teratur, langsung pingin cepat-cepat ke RS. Padahal, kalau bukaannya masih kecil, ke rumah sakit pun akan disuruh pulang dulu. Biasanya masih beberapa jam lagi.
Lagipula, daripada menghabiskan waktu di rumah sakit, lebih nyaman berlama-lama di rumah. Waktu menunggu anak saya yang pertama lahir, di rumah sakit saya malah tambah stress. Penyebabnya, karena ada ibu yang juga akan melahirkan, mulai teriak-teriak karena nggak tahan dengan sakit kontraksi.
Sebenarnya, waktu masih awal pembukaan, sakit kontraksi masih bisa ditahan. Masih bisa ngobrol. Tapi kalau dengar ada yang teriak-teriak kesakitan, ya jadi ikut terasa sakit deh…
2. Selama di rumah, take your time untuk ngecek-ngecek lagi apa yang mesti dibawa ke rumah sakit. Baju ganti, termasuk punya suami. Keperluan bayi, bacaan. Kalau mau ngurus akte kelahiran di rumah sakit, cek juga syarat-syaratnya.
3. Mandi air hangat. Selain biar relaks, kita nggak akan pernah tahu apa proses kelahiran masih lama atau sebentar. Lebih baik bersih-bersih badan dulu. Tapi kalau sudah pecah ketuban, jangan mandi berendam ya…
4. Keramas. Ini juga sama dengan mandi. Biar relaks, dan supaya waktu lahiran kita bisa fokus ke aktivitas mengejan, bukannya mikirin rambut yang lepek karena keringat… Sebenernya sih kalau bisa, creambath dulu kali ya… kan enak tuh dipijetin. Petinju aja kalau mau tanding, dipijetin dulu kan ? he he…
5. Buang air besar. Kedengarannya konyol, tapi penting loh. Daripada dikeluarkan secara paksa alias disedot sama susternya, lebih baik dipersiapkan di rumah. Lebih nyaman kan ?
6. Gunting kuku. Biasanya kalau sudah pembukaan 7 ke atas, sudah mulai rasa sakit yang membuat kita nggak bisa memperkirakan, apa yang akan kita perbuat sama suami atau orang yang menunggui kita.
Bagus kalau cuma meremas tangan, atau marah-marah. Kalau sampai ke cakar mencakar, atau tendang menendang, kasian kan suaminya… makanya kuku kita jangan panjang, untuk jaga-jaga…
7. Makan. Ini penting loh. Yang namanya proses melahirkan itu butuh energi besar. Padahal, semakin intense kontraksi yang kita rasakan, semakin susah untuk makan. Jangan sampai kita kehabisan energi di tengah-tengah mengejan. Kasian kan baby-nya…
Usahakan makan makanan yang bisa jadi sumber energi, bukan cuma ngemil. Tapi jangan kekenyangan ya, ntar malah susah…
8. Minta maaf sama ibu dan suami, atau orang yang mendampingi. Like I said, kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di ruang persalinan. Mungkin prosesnya akan susah, mungkin gampang. Nah, inget-inget bahwa dulu ibu kita juga melalui proses yang sama, jadi nggak ada salahnya kita minta maaf dulu sama ibunda.
Kalau dengan suami, karena kita nggak tahu suami akan kena dampak apa. Mungkin cuma diremas tangannya, tapi mungkin juga dicakar atau ditendang… ha ha…
9. Tidur, or at least relax. Kalau kondisi badan nggak fit, bukannya nggak mungkin di tengah-tengah bukaan, kita merasa nggak tahan dan minta dokter untuk operasi… Jadi, tenangkan pikiran dan siapkan kondisi badan.
10. Berdoa…